Kerajaan Majapahit adalah saksi bisu dari kemegahan peradaban Nusantara di abad ke-14. Dikenal sebagai pusat kekuatan politik dan budaya, kerajaan ini menjalin hubungan diplomatik hingga ke berbagai belahan negara di Asia.
Majapahit tidak hanya meninggalkan jejak kejayaan melalui wilayah kekuasaannya yang luas, tetapi juga melalui tradisi, seni, dan nilai-nilai yang masih dikenang hingga saat ini.
Di dalam artikel ini, mari kita menggali lebih dalam tentang sejarah dan pengaruh besar Majapahit sebagai pusat peradaban kuno, khususnya di Asia Tenggara.
Table of Contents
Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit
Majapahit adalah sebuah kerajaan besar yang pernah berdiri di Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia, dari tahun 1293 hingga 1527 Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya, yang merupakan menantu Kertanagara, raja terakhir Kerajaan Singhasari.
Sebagai kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang memimpin Nusantara, Majapahit sering dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Tapi, sebelum Kerajaan Majapahit berdiri, Kerajaan Singhasari adalah kerajaan paling kuat di Jawa. Kejayaan ini menarik perhatian Kublai Khan, penguasa Dinasti Yuan dari Tiongkok. Ia mengirim seorang utusan bernama Meng Chi ke Singhasari untuk meminta upeti.
Tapi, Kertanegara, raja terakhir Singhasari, menolak dan bahkan mempermalukan utusan itu dengan melukai wajahnya dan memotong telinganya. Ini membuat Kubilai Khan marah, sehingga ia mengirim ekspedisi besar ke Jawa pada tahun 1293.
Pada saat itu, Kertanegara telah digulingkan dan dibunuh oleh Jayakatwang, adipati Kediri. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, menyerahkan diri kepada Jayakatwang atas saran penasihat kerajaan, Aria Wiraraja.
Baca juga: Mengungkap Sejarah Kerajaan Kutai dan 7 Benda Berharga Peninggalannya
Jayakatwang menerima Raden Wijaya dan memberinya hutan Tarik. Di sana, Raden Wijaya membuka lahan baru, membangun desa, dan mendirikan pelabuhan utama di Canggu. Desa itu diberi nama Majapahit, diambil dari nama “buah maja” yang rasanya pahit.
Ketika pasukan Mongol tiba di Jawa, Raden Wijaya bersekutu dengan mereka untuk melawan Jayakatwang. Setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol. Serangan mendadak ini memaksa pasukan Mongol mundur karena mereka harus segera pulang sebelum angin muson berubah, atau terpaksa bertahan di Jawa selama 6 bulan.
Awal Berdirinya Majapahit
Majapahit resmi berdiri pada tanggal 10 November 1293, saat Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Tapi, kerajaannya menghadapi beberapa pemberontakan dari orang-orang kepercayaannya, seperti Ranggalawe, Sora, dan Nambi.
Menurut catatan Pararaton, pemberontakan ini diduga dipicu oleh intrik Mahapatih Halayudha, yang ingin menyingkirkan para pejabat penting dan mengambil alih kekuasaan. Setelah semua pemberontakan berhasil dipadamkan, Halayudha sendiri ditangkap dan dihukum mati.
Sementara itu, Raden Wijaya meninggal pada tahun 1309. Putranya, Jayanegara, menggantikan takhta, tetapi pemerintahannya tidak terlalu kuat. Pararaton menyebutnya sebagai Kala Gemet, yang berarti “penjahat lemah”.
Selama masa pemerintahannya, seorang pendeta Italia bernama Odorico da Pordenone sempat mengunjungi istana Majapahit.
Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri, Tanca. Setelah itu, Gayatri Rajapatni, ibu tiri Jayanegara, seharusnya naik takhta. Tapi, ia memilih menjadi bhiksuni dan menunjuk putrinya, Tribhuwana Wijayatunggadewi, sebagai ratu.
Pada tahun 1336, Tribhuwana mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih. Saat pelantikan, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, menegaskan ambisinya untuk menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Di bawah pemerintahan Tribhuwana, Kerajaan Majapahit berkembang pesat hingga menjadi kekuatan besar di Nusantara.
Setelah Tribhuwana turun takhta pada tahun 1350, putranya, Hayam Wuruk, melanjutkan kepemimpinan Majapahit.
Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit
Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1389), Majapahit mencapai puncak kejayaannya dan menjadi kerajaan besar yang menguasai banyak wilayah di Nusantara.
Berawal setelah wafatnya Rajapatni (Gayatri), Ratu Tribhuwanatunggadewi menyerahkan takhta Kerajaan Majapahit kepada putranya, Hayam Wuruk, yang saat itu baru berusia 16 tahun pada tahun 1350. Setelah dinobatkan menjadi raja, Hayam Wuruk mengambil gelar Sri Rajasanegara.
Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan, yang dikenal sebagai “Zaman Keemasan Majapahit”. Hayam Wuruk didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, yang melanjutkan ambisinya untuk menyatukan wilayah Nusantara.
Berkat kepemimpinan mereka, Majapahit berhasil menaklukkan banyak kerajaan di Nusantara, sehingga wilayah kekuasaannya mencakup hampir seluruh kepulauan Indonesia saat ini, termasuk Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu.
Tumasik pertama kali direbut oleh Majapahit pada masa pemerintahan raja sebelumnya, tetapi sempat lepas akibat konflik internal kerajaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh Kerajaan Ayutthaya dari Siam (sekarang Thailand), yang kemudian menguasai Tumasik. Tapi, pada sekitar tahun 1390, Majapahit berhasil merebut kembali wilayah tersebut.
Kebesaran Majapahit mulai terbentuk sejak masa pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328–1350) dan mencapai puncaknya pada masa Hayam Wuruk (1350–1389). Di era ini, Majapahit tidak hanya terkenal dengan kekuatannya, tetapi juga dengan kemakmuran yang dirasakan oleh rakyatnya.
Hayam Wuruk dan Gajah Mada membawa pengaruh besar terhadap penyebaran pengaruh Majapahit hingga ke luar Nusantara.
Dalam catatan Negarakertagama, disebutkan bahwa asal-usul Kerajaan Majapahit bermula dari sebuah kota kecil di hutan Tarik yang diubah menjadi desa oleh orang-orang yang dikirim oleh Aria Wiraraja.
Setelah runtuhnya Daha, desa tersebut menjadi pusat pemerintahan baru, yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Majapahit. Pada awalnya, wilayah kekuasaan Majapahit hanya mencakup sebagian kecil wilayah Jawa Timur, seperti Kediri, Singhasari, Jenggala, dan Madura.
Tapi, wilayah kerajaan ini semakin meluas setelah berhasil menaklukkan daerah Sadeng (di tepi Sungai Badadung) dan Keta (di dekat Panarukan, pantai utara Jawa Timur). Setelah Jawa Timur sepenuhnya dikuasai, Majapahit mulai memperluas kekuasaannya ke luar Jawa.
Wilayahnya mencakup Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik, hingga sebagian Filipina, seperti yang tercatat dalam Negarakertagama Pupuh XII–XV.
Majapahit menjadi salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara, dengan pengaruh dan kerjasama yang meluas ke luar Nusantara. Meski Hayam Wuruk menganut agama Hindu, Mahapatih Gajah Mada adalah seorang penganut agama Buddha, menunjukkan keberagaman agama di dalam pemerintahan Majapahit.
Masa Kemunduran Kerajaan Majapahit
Setelah mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit mulai melemah secara perlahan. Kejatuhan ini dimulai dengan wafatnya Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389. Sepeninggalnya, terjadi konflik internal berupa perebutan takhta yang melemahkan stabilitas kerajaan. Daerah-daerah, seperti Sumatra bagian utara dan Semenanjung Malaya mulai melepaskan diri.
Semenanjung Malaya bahkan menjadi wilayah sengketa antara Majapahit dan Kerajaan Ayutthaya hingga akhirnya Kesultanan Malaka berdiri dengan dukungan Dinasti Ming. Malaka muncul sebagai solusi atas konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Hayam Wuruk meninggalkan 2 pewaris potensial, yaitu putri mahkota Kusumawardhani yang menikah dengan Pangeran Wikramawardhana, dan Wirabhumi, putranya dari seorang selir. Kedua pihak ini memperebutkan takhta dalam Perang Regreg (1404–1406).
Perang dimenangkan oleh Wikramawardhana, sementara Wirabhumi dihukum mati. Tapi, konflik ini berdampak buruk pada kekuatan Majapahit, yang mulai kehilangan kendali atas wilayah-wilayah taklukannya.
Pada masa pemerintahan Wikramawardhana, ekspedisi laut dari Dinasti Ming yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho mulai berlabuh di Jawa. Komunitas Muslim dari Tiongkok dan Arab mulai terbentuk di pelabuhan-pelabuhan utama, seperti Demak, Tuban, dan Gresik, yang mempercepat penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Sementara itu, Kesultanan Malaka mulai bangkit sebagai kekuatan baru di barat Nusantara, menguasai Selat Malaka, dan merebut pengaruh Majapahit di wilayah sekitarnya.
Pemerintahan dilanjutkan oleh Ratu Suhita (1429–1447), putri Wikramawardhana, diikuti oleh Kertawijaya (1447–1451) dan Rajasawardhana (1451–1453). Setelah wafatnya Rajasawardhana, terjadi kekosongan kekuasaan selama tiga tahun hingga Girisawardhana naik takhta pada 1456. Tapi, konflik internal terus berlanjut.
Pada 1468, Bhre Kertabhumi memberontak melawan Raja Singhawikramawardhana, yang kemudian melarikan diri ke daerah Daha. Tapi, pada 1474, Ranawijaya, putra Singhawikramawardhana, mengalahkan Bhre Kertabhumi dan mempersatukan kembali Majapahit. Ia memerintah hingga 1498 dengan gelar Girindrawardhana.
Tapi, konflik internal ini melemahkan Kerajaan Majapahit secara keseluruhan, memberi peluang bagi Kerajaan Demak yang berbasis Islam untuk bangkit dan akhirnya mengambil alih pengaruh di Nusantara.
Masa Kehancuran Kerajaan Majapahit
Kekalahan Bhre Kertabhumi oleh Ranawijaya pada tahun 1474 memicu konflik antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak. Pada masa itu, Demak sudah menjadi penguasa dominan di pesisir Jawa dan mengambil alih wilayah Jambi serta Palembang dari kendali Majapahit, yang sudah lemah dan lebih berfokus mempertahankan wilayah pedalamannya.
Menurut tradisi Jawa, runtuhnya Majapahit sering dikaitkan dengan tahun 1478 (1400 Saka), yang dianggap sebagai masa peralihan dinasti. Tapi, sebenarnya tahun ini merujuk pada wafatnya Bhre Kertabhumi, bukan sepenuhnya akhir dari kekuasaan Majapahit.
Konflik antara Majapahit dan Demak sempat mereda ketika Patih Udara menggantikan Girindrawardhana dan mengakui kekuasaan Demak. Tapi, perang kembali memanas setelah Patih Udara meminta bantuan Portugis untuk melawan Demak.
Pada tahun 1527, Demak melancarkan serangan besar-besaran yang menghancurkan ibu kota Majapahit, menandai berakhirnya sejarah panjang Majapahit. Sejarawan dari Tiongkok, Portugis, dan Italia mencatat bahwa peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Kesultanan Demak terjadi sekitar tahun 1518 hingga 1521.
Setelah kejatuhan Majapahit, banyak anggota keluarga kerajaan, abdi istana, seniman, dan pendeta melarikan diri ke daerah Panarukan, Blambangan (sekarang Banyuwangi), dan Pulau Bali. Dengan runtuhnya Majapahit, Demak menjadi kerajaan Islam pertama yang kuat di Jawa.
Wilayah Hindu di Jawa yang tersisa hanya kerajaan-kerajaan kecil, seperti Pasuruan, Panarukan, dan Blambangan di timur, serta Kerajaan Sunda di Pajajaran di barat. Sementara itu, masyarakat Hindu perlahan mundur ke pegunungan atau Pulau Bali.
Hingga kini, beberapa komunitas Hindu, seperti masyarakat Tengger di kawasan Bromo dan Semeru, masih bertahan. Demak pun memastikan posisinya sebagai kekuatan utama di Jawa pasca-Majapahit.
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit dalam Berbagai Sumber Sejarah
Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai catatan sejarah berikut ini:
- Kakawin Nagarakretagama (pupuh XIII–XV) mencatat bahwa wilayah Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Singapura, dan sebagian Kepulauan Filipina. Catatan ini menggambarkan Majapahit pada masa kejayaannya.
- Prasasti Jayanegara II (Tuhañaru), yang berasal dari tahun 1323 Masehi, mencatat upaya ekspansi wilayah Majapahit ke luar Jawa. Prasasti ini menyebut gelar raja sebagai “Iswara Sundarapandyadewa,” yang menurut sejarawan H.B. Sarkar menunjukkan bahwa Majapahit memiliki pengaruh besar atas Raja Pandya di India Selatan.
- Hikayat Raja-raja Pasai juga menyebut banyak wilayah yang berada di bawah kendali Majapahit. Wilayah ini mencakup daerah di sekitar Kepulauan Riau, seperti Bintan, Natuna, dan Lingga, Pulau Tioman, Kalimantan, seperti Sambas dan Banjarmasin), Pulau-pulau di Nusa Tenggara, Bali, Palembang, hingga wilayah lain di Semenanjung Malaya dan Filipina.
- Naskah Calon Arang, yang berasal dari masa akhir Majapahit, menyebut wilayah kekuasaan yang meliputi Melayu, Palembang, Jambi, Bengkulu, Malaka, Singapura, Pattani, Pahang, dan Champa (Vietnam). Naskah ini juga mencatat wilayah di Asia, seperti Siam (Thailand), Cina, dan beberapa tempat di India serta Burma.
- Hikayat Banjar, sumber lain yang mendokumentasikan wilayah Majapahit, mencatat kekuasaan Majapahit meliputi Jawa, Banten, Palembang, Makassar, Bali, Minangkabau, Johor, Aceh, Pasai, Bugis, Pahang, Pattani, dan Champa (Vietnam).
Secara keseluruhan, sumber-sumber ini menunjukkan bahwa Majapahit memiliki pengaruh yang luas di Nusantara dan bahkan melampaui batas wilayah Indonesia modern. Tapi, perlu dicatat bahwa penguasaan ini lebih sering berupa pengaruh politik dan budaya dibandingkan kendali langsung atas wilayah tersebut.
Di Mana Lokasi Kerajaan Majapahit?
Kerajaan Majapahit terletak di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Pusat pemerintahan Majapahit berada di sekitar Trowulan, yang kini masuk dalam Kabupaten Mojokerto.
Trowulan diyakini sebagai ibu kota Majapahit berdasarkan peninggalan arkeologis seperti candi, kolam, dan struktur kota kuno yang ditemukan di sana.
Majapahit berdiri pada tahun 1293 M setelah Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Mongol yang dikirim oleh Kekaisaran Yuan.
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389) dengan bantuan mahapatih Gajah Mada, yang dikenal dengan Sumpah Palapa, sebuah janji untuk menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
Secara geografis, wilayah Majapahit membentang luas, mencakup sebagian besar kepulauan Nusantara, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara.
Tapi, pusat pemerintahan tetap berada di Jawa Timur, khususnya di sekitar aliran Sungai Brantas, yang menjadi jalur transportasi utama dan mendukung aktivitas ekonomi serta perdagangan kerajaan.
Bukti arkeologis yang ditemukan di Trowulan meliputi Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, dan Kolam Segaran. Selain itu, prasasti-prasasti seperti Prasasti Kudadu dan Prasasti Waringin Pitu juga menyebutkan keberadaan ibu kota Majapahit di wilayah tersebut.
Setelah mengalami kemunduran akibat perang saudara dan serangan dari kerajaan-kerajaan lain, Majapahit runtuh sekitar abad ke-15.
Sisa-sisa kejayaannya tetap terlihat hingga kini melalui peninggalan sejarah yang tersebar di Jawa Timur, menjadikan Trowulan sebagai salah satu situs arkeologi paling penting di Indonesia.
Sistem Pembagian Wilayah Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit adalah kelanjutan dari Kerajaan Singhasari, yang mencakup wilayah di bagian tengah dan timur Pulau Jawa.
Pada masa itu, Majapahit terbagi menjadi beberapa wilayah yang masing-masing dipimpin oleh seorang uparaja, yang disebut Paduka Bhattara atau bergelar Bhre. Gelar ini merupakan yang tertinggi di kalangan bangsawan dan biasanya hanya diberikan kepada kerabat dekat raja.
Tugas utama mereka adalah mengelola wilayah, memungut pajak, mengirim upeti ke pusat kerajaan, dan menjaga pertahanan di daerah perbatasan.
Majapahit memiliki sistem hierarki wilayah yang terstruktur dengan jelas yang meliputi beberapa sistem ini:
- Bhumi: tingkatan tertinggi, yaitu kerajaan yang dipimpin langsung oleh raja.
- Nagara: wilayah yang dipimpin oleh gubernur, tuan, atau bangsawan bergelar Bhre.
- Watek: kawasan yang dikelola oleh pejabat yang disebut wiyasa.
- Kuwu: wilayah setingkat desa yang dipimpin oleh lurah.
- Wanua: desa yang dipimpin oleh thani.
- Kabuyutan: dusun kecil atau kawasan sakral.
Pada masa kejayaannya, khususnya saat Majapahit menjadi kerajaan maritim di bawah pemerintahan Gajah Mada, konsep wilayahnya berkembang menjadi lebih besar. Wilayah Majapahit dibagi menjadi beberapa kategori:
- Negara Agung adalah inti atau pusat kerajaan. Wilayah ini mencakup ibu kota dan daerah sekitarnya di mana raja secara langsung menjalankan kekuasaannya. Negara Agung meliputi sebagian besar bagian timur Pulau Jawa. Di wilayah ini, pemerintahan berjalan dengan kuat, dan para Bhre, yang merupakan keluarga kerajaan, bertugas memimpin provinsi-provinsi di area ini.
- Mancanegara adalah wilayah yang mengelilingi Negara Agung. Daerah Mancanegara biasanya tetap memiliki penguasa atau raja lokal. Banyak di antara mereka yang menjalin hubungan dengan Majapahit melalui persekutuan atau pernikahan dengan keluarga kerajaan. Majapahit mengawasi wilayah ini dengan menempatkan birokrat dan pejabatnya, mengelola perdagangan internasional, serta mengumpulkan pajak. Contohnya adalah wilayah lain di Pulau Jawa, Madura, Bali, hingga beberapa daerah di Sumatra, seperti Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung, dan Palembang.
- Nusantara adalah wilayah yang berada di luar pengaruh langsung budaya Jawa. Area ini dianggap sebagai koloni yang harus membayar upeti tahunan. Tapi, mereka diberikan kebebasan besar untuk mengatur urusan internalnya sendiri. Majapahit jarang menempatkan pejabat atau tentaranya di wilayah ini kecuali jika ada ancaman terhadap kedaulatan mereka. Contohnya adalah wilayah Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
Selain tiga kategori utama, Majapahit juga memiliki hubungan dengan negara-negara asing melalui diplomasi. Ini menunjukkan bahwa pengaruh Majapahit tidak hanya terbatas pada wilayah Nusantara, tetapi juga mencapai kerajaan-kerajaan lain di luar kawasan tersebut.
Dari pembagian ini, kamu bisa melihat bahwa Majapahit mengelola wilayahnya dengan sistem yang terorganisir, mulai dari pusat kerajaan hingga daerah yang jauh. Strategi ini memperlihatkan bagaimana mereka mengintegrasikan banyak wilayah dengan pendekatan yang fleksibel namun tetap mempertahankan kekuasaan.
Baca juga: Apa Itu Demokrasi? Ini Pengertian, Sejarah, dan 6 Jenisnya
Siapa Saja Raja di Kerajaan Majapahit?
Majapahit adalah kerajaan besar yang dipimpin oleh keturunan Wangsa Rajasa, keluarga kerajaan yang berakar dari Singhasari dan didirikan oleh Sri Ranggah Rajasa pada akhir abad ke-13. Ini adalah daftar maharaja Majapahit berdasarkan kronologi pemerintahannya:
- Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana (1293–1309)
- Nama asli: Nararya Sanggaramawijaya
- Sebelumnya menjabat sebagai Adipati Janggala.
- Diabadikan dalam prasasti Mula Malurung, Kudadu, Sukamerta, dan beberapa kidung, seperti Harsawijaya dan Panji Wijayakrama.
- Sri Maharaja Jayanagara (1309–1328)
- Nama lengkap: Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara.
- Sebelumnya memimpin sebagai Bhre Daha.
- Tercatat dalam Pararaton.
- Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani (1328–1350)
- Nama asli: Dyah Gitarja.
- Memimpin sebagai Bhre Kahuripan sebelum naik takhta.
- Disebutkan dalam Pararaton.
- Maharaja Sri Rajasanagara (1350–1389)
- Nama asli: Dyah Hayam Wuruk.
- Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Kahuripan.
- Dikenal sebagai pemimpin saat Majapahit mencapai puncak kejayaan.
- Tercatat dalam Pararaton dan Negarakretagama.
- Bhatara Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana (1389–1429)
- Nama asli: Dyah Gagak Sali.
- Sebelumnya juga Bhre Kahuripan.
- Tercatat dalam Pararaton.
- Prabu Sri Suhita (1429–1447)
- Nama asli: Suhita.
- Sebelum naik takhta, ia adalah Bhre Daha.
- Tercatat dalam Pararaton.
- Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana (1447–1451)
- Nama asli: Dyah Kertawijaya.
- Sebelumnya memimpin sebagai Bhre Tumapel.
- Tercatat dalam Pararaton.
- Rajasawardhana Sang Sinagara (1451–1453)
- Nama asli: Dyah Wijayakumara.
- Memimpin sebagai Bhre Kahuripan sebelumnya.
- Disebut dalam Pararaton.
- Girishawardhana (1456–1466)
- Nama asli: Dyah Suryawikrama.
- Sebelumnya menjabat Bhre Wengker.
- Tercatat dalam prasasti Waringin Pitu dan Pararaton.
- Sri Adi Suraprabhawa (1466–1468)
- Nama asli: Dyah Suraprabhawa.
- Sebelumnya Bhre Pandansalas.
- Disebut dalam Pararaton.
- Bhre Kertabhumi (1468–1474)
- Sebelumnya dikenal dengan nama yang sama.
- Tercatat dalam Babad Tanah Jawi.
- Prabhu Natha Sri Girindrawardhana (1474–1518)
- Nama asli: Dyah Ranawijaya.
- Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Keling.
- Disebutkan dalam prasasti Jiyu dan catatan Suma Oriental.
- Prabhu Udara (1518–1527)
- Nama asli: Patih Udara.
- Sebelum menjadi raja, ia menjabat sebagai perdana menteri.
- Tercatat dalam Babad Tanah Jawi dan Suma Oriental.
Periode ini juga mencatat adanya kekosongan kekuasaan di antara pemerintahan Rajasawardhana dan Girishawardhana, kemungkinan karena konflik suksesi yang memecah keluarga kerajaan menjadi 2 kelompok.
Ini menunjukkan perjalanan panjang kerajaan Majapahit di tengah konflik internal, suksesi, dan tantangan politik. Meski pernah mengalami kekosongan kekuasaan, pengaruh Majapahit tetap signifikan dalam sejarah Nusantara.
Agama Kerajaan Majapahit
Pada masa Majapahit, agama memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Kamu bisa membayangkan bahwa pendidikan agama dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, bisa secara pribadi di lingkungan keluarga bangsawan atau elite keagamaan seperti kaum brahmana.
Selain itu, ada juga pusat-pusat pendidikan agama khusus yang mirip dengan ashram atau pesantren. Tempat ini disebut Mandala atau Kadewaguruan. Kadewaguruan biasanya terletak di daerah yang jauh dari keramaian, seperti hutan yang tenang, perbukitan, atau pegunungan.
Di sana, terdapat seorang pemimpin spiritual, yang dikenal sebagai mahāresi, śiddharesi, atau dewaguru. Mereka adalah pendeta tinggi yang menjadi panutan dan pembimbing di tempat itu. Karena itulah, pusat pendidikan ini disebut Kadewaguruan.
Di sisi lain, agama Hindu dan Buddha sudah lama membentuk spiritualitas dan peradaban di Jawa, sejak era Kerajaan Mataram, Kahuripan, Kadiri, hingga Singhasari. Saat Majapahit berdiri, agama Hindu dan Buddha juga tetap dianut oleh sebagian besar masyarakat, terutama keluarga kerajaan.
Raja Majapahit pertama, Kertarajasa Jayawardhana, bahkan dihormati sebagai Harihara, yaitu gabungan dewa Siwa dan Wisnu, yang diwujudkan dalam Candi Simping sebagai tempat persemayamannya. Meskipun begitu, ada juga ajaran spiritual khas Jawa, yaitu sinkretisme antara Shaivisme (pemujaan Siwa) dan Buddha Mahayana.
Sinkretisme ini disebut Buddha Siwa, yang menyatukan nilai-nilai Siwa dan Buddha sebagai pertapa dan guru spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa di masa itu, kamu akan melihat harmoni antara penganut Siwa dan Buddha.
Salah satu bukti nyatanya adalah karya sastra Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Dalam naskah ini, kamu akan menemukan pesan toleransi yang kuat antara Hindu dan Buddha, dengan semangat sinkretisme sebagai landasannya.
Pada masa ini, ada juga keberadaan agama Islam yang mulai muncul di lingkungan istana. Bukti sejarah menunjukkan bahwa umat Muslim telah tinggal di Trowulan, ibu kota Majapahit, sejak pertengahan abad ke-14, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Sebuah kompleks makam Islam, yang dikenal sebagai Makam Troloyo, menjadi tanda adanya hubungan dekat antara kaum Muslim dengan istana. Ini mengindikasikan bahwa Majapahit adalah masyarakat yang cukup terbuka terhadap keberagaman.
Seperti Majapahit yang menjadi pusat peradaban pada masanya, era digital saat ini menuntut bisnis untuk menjadi pusat perhatian melalui kehadiran online yang kuat.
Untuk itu, Optimaise, sebagai digital marketing agency Malang, siap membantu kamu melalui jasa SEO Malang dan jasa pembuatan website yang profesional.
Yuk, tingkatkan visibilitas bisnismu dan raih kejayaan di dunia digital bersama Optimaise. Hubungi Optimaise sekarang untuk solusi digital terbaik!