Digital MarketingSEO

Kenali Apa itu Ecommerce Architecture Melalui 5 Hal Ini

Mohamad Katavi

Kenali Apa itu Ecommerce Architecture Melalui 5 Hal Ini

Jika kamu mengunjungi sebuah toko online, kamu tentu mengharapkan pengalaman berbelanja yang lancar dan cepat. Di mana halaman harus dimuat dengan cepat, pembayaran harus cepat, dan produk diharapkan tiba di dalam beberapa hari.

Mungkin sulit untuk memenuhi harapan ini. Namun, memiliki fondasi teknis yang kuat dan ecommerce architecture yang dioptimalkan memungkinkan kamu untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan terus berkembang.

Mungkin kamu akan bertanya-tanya, memangnya apa itu ecommerce architecture? Artikel ini akan menjelaskan apa itu ecommerce architecture, manfaat saat menerapkannya, dan memberikan saran untuk optimasinya. Mari simak lebih lanjut!

Apa itu Ecommerce Architecture

Apa itu Ecommerce Architecture
Apa itu Ecommerce Architecture

Ecommerce architecture adalah cara sebuah toko online di dalam menyusun dan menghubungkan semua bagian teknis yang membuat toko tersebut berfungsi. Bagian-bagian ini umumnya meliputi beberapa hal berikut:

  1. Halaman produk: tempat di mana kamu melihat dan mempelajari detail produk.
  2. Aplikasi seluler: aplikasi yang bisa diunduh di ponsel untuk belanja.
  3. Sistem pembayaran: proses yang digunakan untuk membayar barang yang dibeli.
  4. Basis data: tempat penyimpanan semua informasi, seperti produk, pelanggan, dan transaksi.
  5. Frontend: bagian dari situs web yang dilihat dan digunakan oleh pelanggan.
  6. Backend: bagian dari situs web yang mengelola data dan proses di belakang layar.

Semua bagian ini harus diatur dengan baik dan saling terhubung agar toko online bisa berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman belanja yang baik bagi pelanggan.

Baca juga: 6 Panduan SEO untuk E-commerce dalam Langkah demi Langkah

Manfaat dari Ecommerce Architecture yang Jelas

Manfaat dari Ecommerce Architecture yang Jelas
Manfaat dari Ecommerce Architecture yang Jelas

Karena menguntungkan bisnis di dalam berbagai cara, ecommerce architecture yang dioptimalkan menjadi sangat penting. Salah satunya dengan menawarkan keuntungan di dalam pengoptimalan SEO, seperti ini:

  1. Peningkatan kemampuan crawling: struktur situs yang baik memungkinkan bot mesin pencari dengan mudah indexing dan crawling seluruh situs web. Hasilnya, halaman produk baru akan muncul.
  2. Otoritas situs web yang ditingkatkan: otoritas halaman tersebar di seluruh situs dengan bantuan arsitektur yang baik. Tautan ke home page atau halaman kategori utama memberi sub-halaman otoritas yanh membantu mereka mendapat peringkat untuk keyword yang lebih tinggi.

Baca juga: Cara Membuat WordPress Gratis dalam 6 Langkah Mudah

Selain itu, desain situs web ecommerce yang jelas membantu pengalaman pengguna, seperti ini:

  1. Kemudahan navigasi: pengguna menemukan apa yang mereka cari dengan sedikit usaha dan menikmati pengalaman menjelajah yang memuaskan.
  2. Aksesibilitas yang ditingkatkan: struktur yang jelas menjadi lebih mudah dinavigasi dengan teknologi bantuan, sehingga lebih ramah bagi penyandang disabilitas.

Jenis Ecommerce Architecture

Jenis Ecommerce Architecture
Jenis Ecommerce Architecture

Komponen ecommerce architecture dapat diatur dalam berbagai cara. Konfigurasi yang lebih sederhana, seperti monolithic atau two-tier, lebih cocok untuk merek yang tidak memiliki banyak kebutuhan ecommerce.

Kode administrasi yang lebih sedikit, membuatnya lebih murah dan mudah digunakan. Namun, merek yang memiliki kebutuhan ecommerce yang lebih ketat dapat memilih struktur ecommerce kompleks, seperti microservice, three-tier, atau lainnya.

Ini menawarkan lebih banyak fungsi, tetapi bisa mahal dan lebih sulit untuk dirawat. Mari simak pembahasan mengenai beberapa ecommerce architecture yang paling penting berikut ini.

Monolithic Ecommerce Architecture

Monolithic ecommerce architecture adalah konsep di mana logika bisnis, lapisan akses data, dan antarmuka pengguna digabungkan dalam satu basis kode. Metode ini memiliki beberapa manfaat ini:

  1. Kesederhanaan: struktur yang bertingkat tunggal yang membuatnya lebih mudah dikembangkan, diterapkan, dan dikelola.
  2. Keandalan: karena semua komponen terintegrasi dengan erat, maka masalah dapat diprediksi dan ditangani dengan lebih mudah.

Namun, ia juga memiliki beberapa kekurangan ini:

  1. Masalah skalabilitas: mungkin sulit untuk menskalakan bagian tertentu dari aplikasi tanpa menskalakan seluruh sistem.
  2. Kekakuan: membuat perubahan bisa sulit dan memakan waktu, sehingga akan mempengaruhi keseluruhan sistem.

Merek yang lebih kecil mungkin akam lebih suka monolithic ecommerce architecture. Misalnya, jika kamu tidak berencana untuk meningkatkan produk dan basis pelangganmu yang terbatas, kamu mungkin memilih arsitektur yang mudah dirawat ini.

Microservice Ecommerce Architecture

Microservice ecommerce architecture memungkinkan berbagai sistem ecommerce dan tugas bisnis, seperti manajemen inventaris, bekerja secara terpisah.

Mereka berkomunikasi satu sama lain melalui API aplikasi. Struktur layanan mikro memiliki beberapa manfaat:

  1. Skalabilitas: layanan dapat diskalakan sesuai dengan permintaan fitur tertentu.
  2. Fleksibilitas: perbaikan dan pemeliharaan menjadi lebih mudah karena perubahan pada satu layanan tidak secara langsung mempengaruhi layanan lainnya.

Namun, akan ada beberapa masalah tambahan seperti ini:

  1. Kompleksitas: membutuhkan koordinasi dan manajemen yang komprehensif dari berbagai layanan.
  2. Setiap layanan mikro mungkin memerlukan database dan sumber daya yang berbeda, sehingga dapat meningkatkan overhead.

Misalnya, ritel elektronik besar dapat menggunakan arsitektur jenis ini untuk mengelola berbagai kategori produknya. Ini memungkinkan mereka untuk menskalakan produk tertentu, seperti perangkat seluler, tanpa mengganggu kategori peralatan rumah tangga atau komputer lainnya.

Two-Tier Ecommerce Architecture

Two-tier ecommerce architecture terdiri dari 2 lapisan utama seperti sebutannya, yakni:

  1. Lapisan antarmuka adalah antarmuka pengguna, biasanya dalam bentuk situs web atau aplikasi seluler.
  2. Lapisan data adalah server tempat semua data disimpan, diproses, dan diambil.

Pembeli dapat berkomunikasi langsung dengan server untuk mengambil data, seperti harga dan foto produk, dan melakukan operasi bisnis, seperti menambahkan produk ke keranjang. Metode ini memiliki beberapa keuntungan:

  1. Kinerja: mendistribusikan tugas antara server dan klien dapat meningkatkan kinerja.
  2. Mudah dikelola: menyederhanakan manajemen sisi server dengan memisahkan logika bisnis dari antarmuka klien.

Namun, ada beberapa kelemahan yang perlu kamu perhatikan ini:

  1. Skalabilitas terbatas: jika basis pengguna tumbuh secara signifikan, maka model client-server dapat menjadi hambatan.
  2. Risiko keamanan: lebih banyak titik eksposur karena data harus berpindah antara dua lapisan yang berbeda.

Merek yang lebih kecil dan lebih besar dapat menggunakan arsitektur dua tingkat ini. Toko butik mewah, misalnya, dapat menggunakan arsitektur ini untuk membuat situs web yang interaktif untuk memberikan pengalaman pelanggan yang kaya.

Three-Tier Ecommerce Architecture

Lapisan aplikasi ditambahkan di antara lapisan data dan antarmuka di dalam three-tier ecommerce architecture. Lapisan tengah mengumpulkan dan memproses data, mengubah lapisan data.

Lapisan aplikasi dapat melakukan fungsi yang lebih canggih, seperti melacak dan menyimpan preferensi pengguna tentang produk, pembayaran, dan pengiriman.

Dengan demikian, pengguna dapat mendapatkan rekomendasi produk yang dipersonalisasi tanpa harus memasukkan metode pembayaran atau pengiriman.

Metode ini tingkat memiliki keuntungan seperti berikut:

  1. Skalabilitas: setiap lapisan dapat diskalakan secara mandiri, sehingga meningkatkan kinerja aplikasi secara keseluruhan.
  2. Fleksibilitas: mengubah tingkatan individu jadi lebih mudah tanpa mengganggu yang lain.

Namun, ada beberapa kekurangannya juga:

  1. Kompleksitas: meningkatnya jumlah komponen membuatnya lebih sulit untuk dikelola dan dipelihara.
  2. Biaya: karena kebutuhan infrastruktur yang lebih kompleks, mungkin ada peningkatan biaya operasional.

Misalnya, toko buku online dapat menggunakan arsitektur ini untuk memproses bisnis, penyimpanan, dan interaksi pengguna secara terpisah. Ini memungkinkan mereka untuk memproses transaksi di tingkat tengah, memberikan rekomendasi buku kepada klien, dan mengawasi basis data inventaris.

Headless Ecommerce Architecture

Frontend (situs web atau aplikasi seluler) dan backend terpisah oleh headless ecommerce architecture. Developer kemudian dapat membuat pengalaman frontend dengan teknologi apa pun.

Backend biasa dapat berkomunikasi dengan lapisan headless API. Metode ini memiliki beberapa keuntungan:

  1. Fleksibilitas: memungkinkan penggunaan frontend yang berbeda untuk berbagai perangkat atau platform tanpa mengubah backend.
  2. Pengalaman pengguna yang ditingkatkan: memungkinkan pembaruan antarmuka pengguna yang lebih cepat tanpa mengganggu backend.

Namun, ia juga memiliki beberapa kekurangan:

  1. Kompleksitas: mengelola sistem terpisah secara efektif membutuhkan keterampilan pengembangan tingkat lanjut.
  2. Tantangan integrasi: mengintegrasikan beberapa frontend dengan backend yang sama dapat menjadi sulit.

Misalnya, beberapa bisnis dapat memanfaatkan pendekatan headless ini. Toko pakaian dapat menggunakan arsitektur jenis ini untuk menyediakan pelanggan dengan pengalaman berbelanja yang lancar melalui aplikasi seluler, situs web desktop, dan bahkan perangkat mobile. Selain itu, satu backend akan mengelola semua pengalaman ini.

SaaS Ecommerce Architecture

SaaS ecommerce architecture adalah solusi berbasis web siap pakai yang memungkinkan penyedia pihak ketiga untuk mengelola aktivitas ecommerce, seperti Shopify.

Sebagai penyedia, Shopify bertanggung jawab untuk menjaga, menghosting, dan meningkatkan konfigurasi yang ada. Model ini memiliki banyak keuntungan seperti ini:

  1. Hemat biaya: mengurangi kebutuhan modal awal untuk hardware dan software.
  2. Bebas perawatan: penyedia SaaS yang akan mengelola infrastruktur, keamanan, dan pembaruan.

Meskipun begitu, SaaS ecommerce architecture juga memiliki kekurangan seperti ini:

  1. Kontrol yang lebih sedikit: perusahaan atau bisnis hanya dapat mengontrol platform dan bergantung pada penyedia.
  2. Batasan penyesuaian: jika dibandingkan dengan arsitektur lain, mereka mungkin memiliki sedikit opsi penyesuaian.

Bagi perusahaan rintisan, arsitektur ini sangat menarik. Dengan menggunakan platform ecommerce SaaS, mereka dapat memulai toko online mereka dengan cepat tanpa perlu melakukan investasi awal yang signifikan di dalam infrastruktur IT, sehingga memungkinkan mereka untuk berkonsentrasi pada pengembangan dan pemasaran produk.

Komponen Ecommerce Architecture

Komponen Ecommerce Architecture
Komponen Ecommerce Architecture

Untuk membuat pengalaman berbelanja yang lancar, ada puluhan, jika tidak ratusan, bagian ecommerce yang berbeda yang berinteraksi satu sama lain.

Mari kita telusuri tentang komponen-komponen yang digunakan untuk membuat ecommerce architecture terbaik ini.

Komponen Fronted

Komponen Fronted
Komponen Fronted

Bagian depan situs ecommerce adalah tempat pelanggan berinteraksi secara langsung dengan situs, seperti situs web atau aplikasi. Bagian depan harus menarik dan ramah pengguna. Lapisan antarmuka ini terdiri dari komponen seperti:

  1. Menu adalah alat navigasi yang menampilkan berbagai kategori dan layanan yang tersedia di situs web.
  2. Kategori menampilkan produk dalam kategori tertentu.
  3. Halaman produk menampilkan deskripsi, harga, dan gambar untuk setiap produk.
  4. Halaman tentang kami (about us) menampilkan sejarah, misi, dan nilai-nilai perusahaan.
  5. Bilah pencarian (search bar) menjadi fitur yang memungkinkan pengguna mengetikkan keyword untuk menemukan barang atau informasi di situs web.
  6. Footer adalah bagian di bagian bawah setiap halaman yang biasanya berisi tautan ke informasi penting, seperti detail kontak, pertanyaan yang sering diajukan, dan kebijakan.
  7. Review menjadi bagian untuk menampilkan penilaian pelanggan tentang pengalaman pembelian produk mereka.
  8. Promosi dan banner merupakan elemen visual yang menunjukkan produk baru, diskon, atau penawaran khusus untuk menarik pelanggan.

Komponen Middleware

Komponen Middleware
Komponen Middleware

Lapisan middleware ini berfungsi sebagai jembatan antara frontend dan backend, ini juga dikenal sebagai lapisan aplikasi. Lapisan ini menangani semua aliran data dan pemrosesan antara frontend dan backend. Lapisan ini terdiri dari komponen seperti:

  1. Keranjang belanja adalah keranjang virtual di mana pembeli dapat menyesuaikan dan mengumpulkan barang yang mereka inginkan sebelum melakukan pembayaran.
  2. Payment gateway adalah sistem yang memproses dan mengamankan informasi dan transaksi pembayaran.
  3. Otentikasi pengguna adalah tindakan keamanan yang memverifikasi identitas pengguna yang masuk ke platform.
  4. Manajemen inventaris yang memantau ketersediaan produk dan memberikan informasi tingkat stok secara real time.
  5. API adalah alat yang memungkinkan berbagai aplikasi berkomunikasi satu sama lain.
  6. Session management adalah teknologi yang mengelola interaksi pengguna di seluruh halaman web.
  7. Analitik adalah sistem yang menilai perilaku dan preferensi pengguna untuk mengoptimalkan pengalaman berbelanja.
  8. Protokol keamanan (security protocols) adalah standar dan teknologi yang dirancang untuk melindungi situs web dan data pengguna dari serangan dunia maya.

Komponen Backend 

Komponen Backend
Komponen Backend

Lapisan backend terdiri dari komponen basis data dan sisi server yang menyimpan dan mengelola data. Lapisan server ini mendukung frontend melalui manajemen data dan operasi layanan yang lancar. Komponen utamanya termasuk beberapa komponen ini:

  1. Database management system merupakan software menyimpan dan mengatur semua data penting, seperti informasi transaksi, profil pengguna, dan produk.
  2. Order management system adalah software yang mengatur pemrosesan dan pemenuhan pesanan pelanggan.
  3. Content management system adalah alat yang memungkinkan administrator non-teknis untuk memperbarui konten situs web.
  4. Data backup systems adalah teknologi yang menyimpan salinan data situs web untuk mencegah kehilangan mereka jika terjadi kegagalan.
  5. Layanan email memiliki fungsi yang mengotomatiskan pengiriman email terkait pemasaran, konfirmasi, dan dukungan.
  6. User management systems menjadi kontrol yang mengelola tingkat akses dan izin untuk berbagai pengguna platform.
  7. Server management system merupakan infrastruktur yang memastikan situs web beroperasi dengan lancar dan mengelola sumber daya server secara efektif

Strategi Terbaik untuk Meningkatkan Ecommerce Architecture

Strategi Terbaik untuk Meningkatkan Ecommerce Architecture
Strategi Terbaik untuk Meningkatkan Ecommerce Architecture

Struktur situs web setiap merek ecommerce mungkin berbeda. Misalnya, Amazon sebagai raksasa ecommerce di AS, ia mungkin memprioritaskan kecepatan dan skalabilitas ecommerce architecture mereka.

Sementara itu, merek ecommerce milik perorangan mungkin mengutamakan kemudahan pengiriman dan manajemen inventaris. Namun, sebenarnya ada strategi ecommerce architecture tertentu yang dapat membantu hampir semua bisnis seperti di dalam uraian berikut ini.

Pertimbangkan untuk Memilih Ecommerce Architecture yang Tepat

Pertimbangkan untuk Memilih Ecommerce Architecture yang Tepat
Pertimbangkan untuk Memilih Ecommerce Architecture yang Tepat

Ecommerce architecture harus dapat dibuat sesuai dengan perkembangan bisnismu. Untuk mencapai struktur ecommerce yang tepat, beberapa hal ini harus dipertimbangkan:

  1. Pertumbuhan trafik: pertimbangkan seberapa besar toko onlinemu saat ini dan nantinya. Pengaturan ecommerce harus mampu menampung pertumbuhan jika kamu menargetkan audiens yang besar dan mengantisipasi tingkat trafik yang tinggi. Arsitektur microservice yang dapat diskalakan adalah salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan.
  2. Variasi produk: meskipun kamu hanya memiliki beberapa produk saat ini, tapi kamu mungkin berencana untuk menambahnya di masa mendatang. Jika demikian, struktur situs webmu harus memungkinkan kami untuk meningkatkan jumlah produk yang dijual dengan menambah halaman, produk, dan fitur baru. Arsitektur three-tier yang ramah fitur mungkin menjadi pilihan yang tepat untuk situasi ini.
  3. Keterbatasan anggaran: jenis arsitektur ecommerce yang dapat kamu bangun dan kelola bergantung pada berapa banyak uang yang kamu miliki. Kamu mungkin menyukai arsitektur tertentu, tetapi jika anggaranmu terbatas, lebih baik menggunakan arsitektur monolithic, yang lebih andal dan kurang canggih.
  4. Sumber daya teknis: jika kamu memiliki tim IT internal, kamu mungkin yakin untuk menerapkan sistem ecommerce yang lebih kompleks dan dapat disesuaikan, seperti struktur microservice. Jika tidak, menggunakan platform yang mudah digunakan tetapi tidak fleksibel dengan bantuan developer pihak ketiga mungkin merupakan opsi yang lebih aman.

Petakan Ecommerce Architecture yang Diinginkan Terlebih Dulu

Jangan langsung membangun situs ecommerce, tetapi luangkan waktu untuk merencanakan arsitektur yang kamu inginkan terlebih dahulu.

Baik secara elektronik maupun manual, tentukan arsitekturmu dan masukkan semua halaman yang akan kamu buat, seperti halaman produk atau halaman kontak. Lihat bagaimana semuanya terhubung.

Tingkatkan informasi tentang fitur dan komponen yang akan ditampilkan di masing-masing halaman. Pengujian ini membantu kamu memahami bagaimana perjalanan pembeli biasanya di situs webmu dan apakah situs webmu terlalu rumit.

Kamu dapat menghindari desain ulang yang mahal dengan merencanakan ecommerce architecture milikmu terlebih dahulu.

Karena kamu mungkin ingin tahu bagaimana struktur situsnya, teknologi, integrasi, dan kerangka kerja yang akan kamu gunakan.

Kembangkan Navigasi Situs Web yang Memudahkan Pengguna

Kembangkan Navigasi Situs Web yang Memudahkan Pengguna
Kembangkan Navigasi Situs Web yang Memudahkan Pengguna

Navigasi di situs ecommerce harus logis dan mudah dipahami. Halaman produk, sub-kategori, dan kategori harus dilabeli dengan istilah umum daripada jargon industri.

Misalnya, di atas adalah cara Zalora membuat label untuk kategori produknya. Istilah-istilah ini mudah dipahami dan kamu tahu apa yang diharapkan dari mereka.

Selain itu, ketika kamu membuka sub-kategori, Zalora akan menampilkan semua informasi yang mungkin kamu butuhkan untuk memutuskan apakah kamu ingin membeli produk atau tidak. Kamu dapat dengan mudah berpindah dari halaman utama ke halaman pembayaran.

Ada beberapa metode tambahan untuk membuat navigasi situs web lebih mudah dipahami:

  1. Pastikan tautan penting, seperti “Home Page” atau “Produk” dapat diakses dari halaman mana pun.
  2. Gunakan desain yang konsisten di berbagai jenis halaman untuk pengalaman yang kohesif.
  3. Letakkan kotak pencarian (search bar) di bagian atas setiap halaman.
  4. Gunakan navigasi breadcrumb untuk memberi tahu pengguna di mana mereka berada di situs web.
  5. Sederhanakan navigasi pengguna di ponsel dengan solusi.

Optimalkan Ecommerce Architecture yang Mobile-Friendly

Optimalkan Ecommerce Architecture yang Mobile-Friendly
Optimalkan Ecommerce Architecture yang Mobile-Friendly

Komponen arsitektur ecommerce milikmu juga harus dirancang untuk digunakan di perangkat seluler. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut:

  1. Gunakan desain responsif yang menyesuaikan tata letak dengan ukuran layar perangkat.
  2. Batasi item menu pada kategori penting untuk menghindari kepadatan.
  3. Gunakan gambar yang dioptimalkan dengan ukuran file yang lebih kecil yang terlihat bagus dan dimuat dengan cepat.
  4. Gunakan tombol yang lebih besar, tautan yang mudah dipilih, dan spasi yang memadai untuk mencegah klik yang tidak disengaja.
  5. Minimalkan penggunaan skrip dan animasi yang berat.

AliExpress, raksasa ecommerce asal Tiongkok, adalah contoh ecommerce architecture yang luar biasa. Versi seluler dan desktopnya berbeda.

Misalnya, perusahaan memiliki 24 kategori produk berbeda di versi desktopnya, tetapi pada versi selulernya, perusahaan hanya menampilkan sembilan kategori paling populer. Ini membantu pengguna menemukan produk yang diinginkan dengan lebih mudah.

Baca juga: Begini 9 Cara Mudah Membuat Nama Toko yang Bagus

Bangun Ecommerce Architecture yang SEO-Friendly

Bangun Ecommerce Architecture yang SEO-Friendly
Bangun Ecommerce Architecture yang SEO-Friendly

Ada banyak cara untuk meningkatkan trafik organik dengan mengoptimalkan kategori dan halaman produkmu. Pertama, hubungkan halaman kategori dengan Home Page.

Kemudian, kamu juga harus menghubungkan masing-masing halaman produk di halaman kategori. Ini membantu menyebarkan otoritas halaman dari satu halaman Home Page ke halaman lain, dan sebagai hasilnya, halaman tersebut mungkin mendapatkan peringkat yang lebih baik untuk keyword targetnya.

Kamu juga harus menautkan halaman produk dari posting blogmu. Teknik internal link ini dapat membuat situs webmu lebih mudah dinavigasi dan optimal untuk SEO.

Untuk memberi nama setiap kategori dan halaman produkmu, kamu harus menemukan berbagai keyword yang terkait dengan produkmu.

Lakukan Audit dan Perbaikan

Lakukan Audit dan Perbaikan
Lakukan Audit dan Perbaikan

Di situs ecommerce, produk dan penawaran yang ditambah dan dihapus, halaman baru yang dibuat, dan struktur situs web yang terus berubah penting untuk dipantau agar kamu bisa mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul.

Misalnya, untuk mengidentifikasi apakah halaman baru memiliki hubungan dengan halaman lain di situs web sehingga crawler Google dapat melakukan indexing dan crawling setiap halaman.

Selain itu, untuk memastikan bahwa proses pemuat halaman dilakukan dengan cepat tanpa mengalami masalah keamanan.

Fondasi teknis yang kuat ini tidak hanya membantu memenuhi harapan pelanggan, tetapi juga mendukung pertumbuhan bisnismu. Sebagai penyedia jasa SEO profesional, Optimaise dapat membantu meningkatkan visibilitas situs webmu di mesin pencari, sehingga toko onlinemu dapat mencapai lebih banyak calon pelanggan dan meningkatkan penjualan. Hubungi Optimaise sekarang dan maksimalkan potensi bisnis ecommerce milikmu!

Baca Juga

Optimaise