TipsEdukasi

Apa Itu Radikalisme? Pahami Lebih Jauh Lewat 4 Hal Penting Ini

Tiara Motik

Apa Itu Radikalisme? Pahami Lebih Jauh Lewat 4 Hal Penting Ini

Radikalisme sering kali menjadi topik yang hangat diperbincangkan, tetapi apakah kamu benar-benar memahami apa itu radikalisme?

Istilah ini tidak hanya berkaitan dengan politik atau agama, tetapi juga mencerminkan cara berpikir yang ekstrem dalam berbagai aspek kehidupan. Beberapa orang menganggapnya sebagai upaya perubahan, sementara yang lain melihatnya sebagai ancaman bagi stabilitas sosial.

Agar kamu lebih memahami konsep ini dengan jelas, mari kita bahas radikalisme lebih dalam melalui empat hal penting yang akan membuka wawasanmu.

Apa yang Dimaksud dengan Radikalisme?

Apa yang Dimaksud dengan Radikalisme
Apa yang Dimaksud dengan Radikalisme?

Radikalisme berasal dari kata “radikal”, yang dalam bahasa Latin berarti “akar”. Awalnya, istilah ini digunakan di Eropa pada abad ke-18 untuk menggambarkan perubahan besar dalam sistem politik.

Menurut sejarah, kata “radikalisme” pertama kali diperkenalkan oleh Charles James Fox pada tahun 1797 dan digunakan dalam konteks gerakan reformasi untuk memperluas hak pilih serta mengubah sistem parlementer.

Seiring waktu, makna radikalisme berubah. Pada abad ke-19, banyak orang mulai percaya bahwa mereka bisa mengendalikan lingkungan sosial dengan tindakan kolektif. Dalam konteks ini, radikalisme menjadi paham yang menginginkan perubahan besar dalam sistem yang sudah ada, bahkan sampai ke akarnya.

Jika kamu melihat dari sudut pandang sosial dan politik, radikalisme adalah keinginan untuk mengubah sistem secara mendasar.

Sementara itu, di dalam konteks keagamaan, istilah ini sering dikaitkan dengan upaya mengganti tatanan sosial dan politik menggunakan cara-cara yang ekstrem, termasuk kekerasan.

Secara umum, radikalisme bisa diartikan sebagai pemikiran atau tindakan yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan, mencapai tujuan, atau merombak suatu sistem. Karena itu, perlu ada kajian mendalam agar pemahaman tentang istilah ini lebih jelas dan bisa dijadikan acuan bersama dalam membahas topik ini.

Baca juga: 7 Cheat Guitar Hero PS2 untuk Membuka Semua Lagu dan Mode

Faktor Penyebab Radikalisme

Faktor Penyebab Radikalisme
Faktor Penyebab Radikalisme

Radikalisme bisa diartikan sebagai doktrin atau praktik yang dianut oleh kelompok yang memiliki pandangan ekstrem. Gerakan ini biasanya bertujuan mengubah tatanan sosial secara total, bahkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan hukum atau norma yang berlaku.

Tapi, sebenarnya apa saja faktor yang mendorong munculnya paham radikalisme? Ini beberapa di antaranya:

  1. Faktor pemikiran: bisa muncul karena adanya keyakinan kuat bahwa segala sesuatu harus diubah sesuai dengan keinginan kelompok tertentu. Sayangnya, cara yang digunakan bisa melibatkan kekerasan demi mencapai tujuan mereka.
  2. Faktor ekonomi: masalah ekonomi juga bisa menjadi pemicu munculnya ideologi radikal. Ketika seseorang atau kelompok merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, mereka bisa terdorong untuk menyebarkan ideologi tertentu, bahkan dengan kekerasan, demi keuntungan pribadi atau kelompoknya.
  3. Faktor sosial: paham radikal bisa menyebar dengan cara memengaruhi pemikiran orang lain, terutama mereka yang mudah percaya atau merasa butuh perubahan dalam hidupnya. Sayangnya, terkadang perubahan yang dijanjikan justru bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat atau negara.
  4. Faktor politik: ketidakpuasan terhadap pemerintahan juga bisa menjadi pemicu radikalisme. Jika suatu kelompok merasa bahwa pemerintah bersikap tidak adil atau hanya menguntungkan sebagian orang saja, mereka bisa terdorong untuk melakukan tindakan ekstrem sebagai bentuk protes atau perlawanan.
  5. Faktor psikologis: perasaan marah, benci, atau dendam juga bisa mendorong seseorang menjadi radikal. Jika seseorang merasa dirugikan atau diperlakukan tidak adil, mereka bisa menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh kelompok yang menawarkan “solusi” dalam bentuk paham radikal.
  6. Faktor pendidikan: jika ideologi radikal masuk ke dalam sistem pembelajaran atau disebarkan oleh orang-orang di dalamnya, paham ini bisa dengan mudah diterima oleh mereka yang belum memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan dan toleransi.

Itulah beberapa faktor yang bisa menyebabkan radikalisme berkembang. Karena itu, penting bagi kamu untuk selalu berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Baca juga: Cara Membuat Makalah di HP Menggunakan 6 Aplikasi

Ciri-ciri Radikalisme

Ciri-ciri Radikalisme
Ciri-ciri Radikalisme

Menurut Syahrin Harahap dalam bukunya Upaya Kolektif Mencegah Radikalisme dan Terorisme, ada 10 ciri utama kaum radikalis. Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri radikalisme yang paling umum:

Baca juga: 7 Cara Mudah Ganti Background Biru Pas Foto, Sudah Coba?

  1. Kaum radikalis cenderung memahami ajaran agama atau ideologi mereka secara literal, tanpa mempertimbangkan konteks sosial, sejarah, atau tafsiran yang lebih luas. Mereka menolak pendekatan yang lebih fleksibel atau rasional dalam memahami ajaran yang mereka anut.
  2. Mereka memiliki pandangan yang sangat ekstrem dan fanatik terhadap keyakinan mereka. Mereka juga bersikap eksklusif, artinya hanya kelompok mereka yang dianggap benar, sedangkan orang lain dianggap salah atau sesat.
  3. Radikalis cenderung menutup diri dari kelompok lain dan tidak mau berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Mereka menganggap kelompok mereka sebagai satu-satunya yang benar dan menolak ide-ide dari luar.
  4. Mereka sering merasa lebih unggul dan berusaha mengoreksi atau menghakimi orang lain yang tidak sepemikiran. Mereka ingin semua orang mengikuti cara berpikir mereka dan tidak segan-segan menyalahkan pihak lain yang dianggap melenceng.
  5. Salah satu ciri utama kaum radikalis adalah mereka tidak ragu untuk menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan mereka. Mereka percaya bahwa kekerasan adalah cara yang sah untuk memperjuangkan ideologi mereka.
  6. Radikalis sering kali memiliki loyalitas yang lebih besar terhadap kelompok atau ideologi mereka daripada terhadap negara tempat mereka tinggal. Mereka bisa mendukung kelompok di negara lain yang memiliki ideologi serupa, bahkan jika itu berarti bertentangan dengan kepentingan negaranya sendiri.
  7. Mereka sering kali menganggap ada “musuh” yang harus diperangi, tetapi musuh ini sering kali tidak jelas identitasnya. Musuh bisa berupa kelompok masyarakat tertentu, pemerintah, atau bahkan konsep-konsep abstrak, seperti “barat” atau “modernisasi”.
  8. Radikalis lebih suka menggunakan cara-cara konfrontatif, termasuk kekerasan bersenjata, daripada mencari solusi damai atau diplomatis. Mereka sering menganggap konflik sebagai satu-satunya cara untuk mencapai tujuan mereka.
  9. Salah satu tujuan utama kaum radikalis adalah mendirikan negara yang berdasarkan pada ideologi mereka, sering kali dengan mengabaikan keberagaman dan kebebasan beragama yang sudah ada di suatu negara.
  10. Mereka cenderung mudah menganggap orang lain yang berbeda pandangan sebagai “kafir” atau musuh yang harus diperangi. Ini membuat mereka sulit menerima perbedaan dan cenderung menganggap semua orang di luar kelompok mereka sebagai ancaman.

Secara keseluruhan, kaum radikalis memiliki pola pikir yang kaku, tidak toleran, dan cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Sikap seperti ini berbahaya karena bisa memicu konflik sosial, kekerasan, bahkan terorisme.

Radikalisme di Indonesia

Radikalisme di Indonesia
Radikalisme di Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, radikalisme memiliki 3 arti utama:

  1. Sebuah paham atau aliran yang bersikap radikal dalam politik.
  2. Keinginan untuk mengubah tatanan sosial dan politik dengan cara yang drastis atau bahkan kekerasan.
  3. Sikap ekstrem dalam pandangan politik.

Menariknya, jika kamu melihat KBBI tahun 1990, kata “radikal” sebenarnya punya makna yang lebih netral. Saat itu, radikal diartikan sebagai sesuatu yang menyeluruh, habis-habisan, atau bahkan maju dalam berpikir dan bertindak. Tapi, seiring waktu, makna ini berubah menjadi lebih negatif karena pengaruh sejarah dan perkembangan sosial.

Menurut indonesia.go.id, pemerintah menggunakan istilah radikalisme untuk merujuk pada kelompok yang:

  1. Berusaha mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan sistem lain.
  2. Menggunakan cara ekstrem, termasuk kekerasan dan paksaan, dalam aktivitas politik mereka.
  3. Menganut sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.

Dari penjelasan ini, bisa disimpulkan bahwa radikalisme bukan sekadar ide atau gagasan, tetapi juga sebuah gerakan yang ingin mengubah tatanan sosial, politik, atau keagamaan secara menyeluruh. Masalahnya, perubahan yang mereka inginkan sering kali dilakukan dengan cara-cara yang keras dan berbahaya.

Karena itu, penting bagi kita untuk memahami akar masalahnya serta mencari solusi yang tepat agar tidak mudah terpengaruh oleh paham yang merusak. Dalam era digital seperti sekarang, penyebaran ideologi radikal juga semakin marak melalui internet.

Jika kamu memiliki bisnis atau platform digital, pastikan visibilitas dan kredibilitas onlinemu tetap terjaga dengan strategi SEO yang tepat.

Optimaise, sebagai digital marketing agency Malang, siap membantumu meningkatkan performa website melalui jasa SEO Malang, jasa SEO Bali, dan jasa press release yang profesional dan terukur. Dengan strategi digital yang tepat, kamu bisa menjangkau audiens yang lebih luas dan membangun brand yang terpercaya.

[addtoany]

Baca Juga

Optimaise